• 3

    Aug

    Helga Worotitjan: "I Refuse To Remain Silent" Sebuah PERJUANGAN untuk mendukung para penyitas kekerasan seksual dan kekerasan domestik.

    Seorang penyitas dari tindak kekerasan seksual, biasanya memiliki trauma yang sangat mendalam. Berbagai stigma yang muncul di masyarakat makin membuat para penyitas ini terkekan secara psikis. Korban tidak berani untuk meminta bantuan kepada pihak lain, disebabkan karena stigma masyarakat tersebut, walaupun hanya sekedar konseling. Tidak begitu banyak lembaga yang aware dengan korban, dan akses informasi yang sangat kurang semakin membuat para korban/penyitas hanya bisa memendam ‘derita’ yang dialaminya. Tapi bersyukur, dari sekian sedikitnya orang-orang yang perduli dan aware kepada para korban/penyitas. Ada satu sosok yang saya kenal lewat media sosial, yang aktif memberikan support kepada para penyitas kekerasan seksual dan kekerasan domestik. Dia adalah Helga Worotitjan. P
  • 30

    Jul

    Sosial Media Jancuk!

    “Manusia merupakan spesies yang paling tinggi kecerdasannya” Begitulah pernyataan kaum evolusionist, mereka menyebut kita (dan pastinya diri mereka sendiri) adalah salah satu spesies yang ada di muka bumi ini yang telah mencapai tingkat evolusi paripurna, artinya masih menurut mereka, manusia sudah mencapai tingkat evolusi paling tinggi dari sebuah fase evolusi makhluk hidup. Mungkin, dan pastinya, pendapat kaum evolusionist ini akan sangat-sangat mendapatkan tentangan dari kalangan pemuka-pemuka agama, atau para pemeluk agama yang memiliki pandangan bahwa manusia itu diciptakan secara khusus, spesial oleh Tuhan Yang Maha Hebat. Berbeda dengan makhluk hidup yang lainnya, manusia diberikan kelebihan-kelebihan dari makhluk lainnya seperti; akal, hati nurani, dan perasaan. Yang
  • 10

    Jul

    Andai Gue Warga Jakarta.

    Faisal - Biem Mungkin aja gue telat untuk ikut serta menyampaikan pemikiran gue tentang Pilkada DKI yang bakal digelar besok, tanggal 11 Juli. Sebenernya gue bukan orang yang punya minat sama dunia politik. Menurut gue politik itu bullshit. Semuanya omong kosong belaka. Nggak ada yang bisa dipercaya. Gue tau mereka semua orang-orang pinter, bahkan saking pinternya, kalo kata orang Jawa bilang Minterke wong cilik tok. Ya, mereka cuma muncul ketika akan ada event Pemilihan Umum aja, tebar janji, ngotorin lingkungan dengan poster-poster, stiker-stiker, dan spanduk-spanduk yang gede melintang di tengah jalan, buat nunjukkin kalo mereka eksis. Sangat insecure! Gue orang Tangerang, dan juga pernah merasakan ada di masa euphoria Pilkada Tangerang Selatan, waktu itu calon yang gue kenal cu
  • 27

    Jun

    Beragama(lah) Dengan PeDe.

    Apakah dengan Menjelekkan Agama/Keyakinan Agama Lain, orang akan Berminat Memeluk Agama/Keyakinanmu? Akhir-akhir ini, saya makin gerah membaca postingan yang berbau agama di berbagai artikel di internet. Saya tidak tahu apakah yang masih posting tentang agama tidak tahu bahwa tema tentang agama pernah dan selalu “panas” di media publik? Apakah saudara-saudari yang masih menulis tentang “tema sensitif” ini sudah sudah berkeyakinan dengan “benar”? Saya pikir naif jika dia adalah orang yang paling benar, termasuk saya, dan yang berbeda keyakinan dengan dia sudah pasti salah. Menurut pemikiran saya, yang mungkin juga salah, orang-orang semacam ini memiliki gejala sebagai berikut: Pertama, dia pikir agama/keyakinannyalah yang terbaik untuk semua orang dan su
  • 10

    Jun

    2 Timotius Gue Ada Dimanaaa??!! -Sebuah Kejadian Konyol di Dalam Ruangan Ibadah-

    Kejadian konyol tadi di Gereja pas ibadah, bener-bener membuat gue sadar betapa gue udah memposisikan Alkitab cuma sebagai buku biasa tanpa keistimewaan di dalamnya. Ini bener-bener tindakan bodoh, dan nggak seharusnya gue lakukan. Dalam hati gue bertanya, apakah gue doang yang ngalamin hal ini, atau justru banyak yang ngakunya Kristen tapi ngalamin juga hal kayak gue tadi? Dan ini memaksa gue untuk flashback ke belakang tentang pengalaman-pengalaman gue dan Kitab Suci yang gue punya. Kejadian yang gue sebut konyol tadi, bermula pas sesi Firman Tuhan, ketika sang pembicara memulai khotbahnya, dan meminta para jemaat untuk membuka kitab 2 Timotius sebagai bahan khotbahnya. Gue pun dengan santai mengambil Alkitab gue, dan mencoba mencari 2 Timotius itu tadi. setelah membuka halaman demi hal
  • 7

    Jun

    HERO: The word that I read BAPAK -Bacalah Dengan Hati-

    Sebenernya gue mau kasih judulnya gini: HERO: The word that I spelled BAPAK, BABEH, BEH, AYAH, ABAH, PAPI or whatever, tapi kayaknya kepanjangan kali yak? Udah deh, makanya gue Cuma kasih tulis itu judul kayak yang kalian baca di atas. Dan memang, gue emang biasa manggil bokap gue Bapak. google.com Mungkin setiap orang dari kita pasti mengagumi sosok manusia yang satu ini; Ayah kita. Dengan sudut pandang kita masing-masing tentunya. Sosok ini pasti memberikan banyak pengaruh terhadap masa awal-awal tumbuh kembang kita, prinsip yang kita pegang, bahkan karakter kita sekarang ini, hampir pasti banyak dipengaruhi oleh sosok yang satu ini. Di postingan kali ini, gue mau cerita sedikit tentang sosok Bokap gue ini, yang sangat menginspirasi gue tentunya. Gue belajar banyak dari dia: to
  • 29

    May

    Saya diajarkan.... Oleh entah siapa gurunya...

    Life's Lesson Saya diajarkan untuk yakin pada diri sendiri untuk bisa melakukan segala sesuatu, walau orang-orang di sekitar saya meremehkan saya, entah oleh siapa gurunya… Saya diajarkan untuk selalu bangkit ketika jatuh, meskipun harus berkali-kali jatuh, entah oleh siapa gurunya… Saya diajarkan untuk selalu berprasangka baik terhadap orang lain, meskipun orang tersebut selalu berburuk sangka kepada yang lain, entah oleh siapa gurunya… Saya diajarkan untuk menghargai orang lain, meskipun orang lain tersebut kadang memandang sebelah mata terhadap orang yang lainnya, entah oleh siapa gurunya… Saya diajarkan untuk sebisa mungkin menghapus setiap air mata yang ada di wajah orang lain, meskipun kadang saya harus menghapus air mata di wajah
  • 19

    May

    Tuhan Mampir ke Toilet ?

    Toliet Thinker Kapan terakhir kali kita bisa denger hati nurani kita sendiri ‘bicara’..?? Kadang kita sering terjebak dalam suasana yang membuat kita tuli sama suara hati nurani kita sendiri, yang seringkalinya kita bikin-bikin sendiri. Gue ngalamin itu, entah guenya yang terlalu sibuk sendiri, atau emang gue sendiri udah nggak peka lagi, tapi mungkin aja gue sendiri yang sengaja tuli, nggak peka, dan abai. Intuisi, atau kata hati, inspirasi, atau gue lebih seringnya nyebut sebagai ‘suara Tuhan‘, bisa dengan secara tiba-tiba muncul gitu aja. Tiba-tiba ngengetin, tiba-tiba nanya, tiba-tiba menghakimi. Mungkin nggak kebayang kali ya, kok bisa hati nurani kita menghakimi diri kita sendiri. Tapi ya emang gitu, dia bisa muncul dalam bentuk apapun selama kita masih p
  • 29

    Apr

    Tidur Di Atas Timeline

    Social Network Belakangan ini, nggak ngerti kenapa jadi lebih sering ngerasain atau lebih tepatnya lebih sering terjebak sama yang namanya social network. Mungkin gue termasuk salah satu dari sekian banyak orang yang terlalu sering mengakses jejaring sosial, hampir tiap hari jadi semacam suatu keharusan buat gue untuk ngecek akun-akun gue di situs jejaring sosial. Mau itu cuma stalking timeline, ataupun cuma ngetwit/update status hal-hal yang menurut gue ‘penting’ untuk di-share, padahal sebenernya terkadang hal-hal ‘penting’ yang menurut gue ‘penting’ itu ya nggak seberapa penting juga sih.. *nah lho? Bingung kan?* Social Network Sedikit pengen flashback kebelakang, pertama kali punya akun di situs jejaring sosial itu Facebook sekitar tahun 2009