Matahari Yang Sama

1 Sep 2013

Source from Google

Source from Google

Hening malam kian beranjak larut. Sunyi, tenang, dan syahdu. Hanya derik serangga yang terdengar dari sela semak dan rerumputan yang saling bersahut. Alun desah rintihan angin malam pelan merambat ke setiap sisi arah mata angin. Seakan membuai menutup panjangnya hari yang terasa sangat lelah.

Di atas sana, langit terbuka membentang cerah, seperti berbicara, memamerkan gemerlap titik-titik cahaya, kemegahan tiada tara karya Sang Maha Indah. Tiada awan yang menghalangi, dan tak ada mendung yang menutupi.Semua dipamerkan dengan jelas, tanpa kepalsuan, bagai sebuah pameran keindahan yang disajikan dengan sempurna.


Di sebuah cafe outdoor di kota Semarang. Dua orang manusia dewasa nampak sedang duduk berdampingan sambil bercengkerama menghabiskan malam walau hanya dengan sekedar minum kopi dan menyantap sedikit makanan-makanan ringan yang disediakan di sana.

Mereka duduk bersebelahan, dengan tangan yang saling menggenggam. Diterangi sinar jutaan bintang yang menerangi langit malam, bagai pecahan-pecahan permata yang memang sengaja ditebar diatas sana.

Namun diantara nada-nada bicara mereka terselip sedikit aura kelabu. Setiap kata yang keluar mengandung guratan-guratan gelisah dari curahan hati mereka. Sama gelisah seperti yang kini mereka rasakan di hati masing-masing saat ini.Langit terbuka luas, tapi belum untuk pikiran mereka.

“Jadi, habis ini gimana?”


“Belum tau Ty.”


“Kenapa nggak tetep disini aja sih kerjanya? Apa kamu nggak bisa nolak tawaran bos kamu untuk pindah ke Jakarta?”


“Aku juga pengen begitu, tapi aku ngerasa aku nggak boleh nyia-nyiain kesempatan ini.”


“Kenapa?”

“Ini kesempatan langka, dan aku masih pengen nyari ilmu di bisnis ini. Dua tahun di Semarang ini aku seperti menemukan hidup baru, semangat baru, ketemu orang-orang hebat, orang-orang yang tulus nyuport aku, termasuk di sini aku bisa kenal sama kamu. Itu yang paling bikin aku bahagia.”


“Apa kamu tega ninggalin aku di sini Ar?”


Arya hanya tertawa kecil lalu berkata, “Kalaupun aku di Jakarta, kita kan masih bisa komunikasi, itu bukan masalah. Apa kamu ikut sekalian aja sama aku ke Jakarta?”

“Ya gak mungkin tiba-tiba begini, kalaupun aku nyusul kamu ke Jakarta. Aku pasti butuh waktu buat ngatur semuanya di sini.

Tapi Ar, bukan karena disana ada yang lain kan?”


Pemuda itu terdiam, sejenak menatap wajah sang gadis yang tampak murung, sampai kemudian dia berucap sambil setengah bersenandung, “Tak akan ada cinta yang lain… hehehe.”

“Huuu…gombal, buktinya kamu tetep bakal ninggalin aku disini kan?”


Perlahan dirangkulnya tubuh kekasihnya itu, lalu dengan pelan dia bertanya,

“Kenapa sih harus ke Jakarta sih Ar?”

“Itu udah cita-citaku dari dulu Ty, ini karir yang akan ngedukung rencana masa depanku nanti. Masa depan kita juga.” jawab Arya dengan nada yang juga semakin pelan sambil menundukkan wajahnya.

“Terus kamu mau tinggal sama siapa di sana?”


“Kantor udah nyiapin segala keperluan aku disana nanti.”


“Sendiri?”

“Mau gimana lagi.”


Sejenak keduanya terdiam, Arya lalu menyenderkan badannya ke sandaran kursi untuk sedikit merenggangkan otot-ototnya dan pikirannya yang semakin menegang. Dengan kepalanya yang menyender dengan nyaman di kursi cafe itu, pikirannya menerawang, matanya memandang jauh keatas awang-awang, kearah kumpulan bintang yang tiada terhitung jumlahnya.


“Ar…” panggil Asty dengan lirih.


“Apa?” jawabnya tanpa berpaling dari pemandangan yang terpampang jauh di atasnya.

“Lalu gimana kelanjutan hubungan kita?”

Ada sedikit rasa gundah yang terasa di dadanya saat gadis disampingnya menanyakan hal itu.


“Kenapa dengan hubungan kita?”


“Gak usah pura-pura gak tahu.”


“Banyak orang yang menjalani hubungan jarak jauh atau LDR, dan hubungan mereka masih baik-baik saja.”

“Tapi gak akan semudah yang kita bayangin.”

“Aku tahu, akupun tak yakin bisa melaluinya.”


“Arya, aku gak mau hubungan kita selama ini sia-sia,” ujar Asty sambil ikut menyandarkan badannya di sebelah Arya. Matanya nanar, kosong menatap ke depan.

“Gak ada sesuatu yang diciptakan dengan sia-sia Ty. Gak ada,” ucapnya mantap dan penuh arti. Rona air mukanya berubah. Segaris senyum kecil tersungging dari bibirnya saat sebersit sinar bintang jatuh melintas jauh diatas sana.

****
Matahari mulai tampak turun semakin rendah dari garis kekuasaannya. Cuaca yang dari tadi siang terasa sangat menyengat kini perlahan berubah hangat. Sedikit mendinginkan kepala orang-orang yang mulai pagi tadi sibuk akan segala aktifitasnya di tengah hiruk pikuk dan semrawutnya kota Jakarta. Semilir angin sore bertiup pelan, menimbulkan bunyi gemerisik dari daun-daun pepohonan.

Suasana halaman sebuah perkantoran tampak semakin lengang, karena banyak diantara para pekerja yang sudah pulang. Di sudut seberang halaman terlihat seorang pemuda terlihat berjalan melenggang dengan santai ke arah tempat parkir kendaraan, dimana mobilnya diparkirkan.

“Aaaarrr…..tunggu!!!” teriak seorang gadis manis berwajah khas wanita Jawa dengan kulitnya yang hitam manis, dan rambutnya yang tergerai sebahu lebih sedikit, tergopoh-gopoh mengejar pria yang berjalan didepannya. Asty, dia saat ini juga berada di kota Jakarta, dia pindah pekerjaan beberapa bulan kemudian menyusul Arya kekasihnya untuk sama-sama bekerja di kota ini, di Jakarta

“Eh, kamu Ty, ngapain kamu nyusul kesini? Kan nanti aku mau mampir ke tempat kamu”

“Yee…jahat banget sih, gitu banget reaksinya? Udah cape-cape disusulin kesini, malah begitu banget reaksinya. T.O.O..F.L.A.T. Aryaa jelek.” rajuk Asty sambil menggembungkan pipinya yang tampak lucu.

“Hehe…ngambek ni, lucu banget sih kalau ngambek gini,” goda Arya itu sambil mencubit pipi Asty di sampingnya yang tampak menggemaskan.

“Iiihh….sakit tau. Ar, kamu gak ingat ini hari apa?”

“Ini hari Jumat, tanggal 17 Desember”

“Terus?”

“Terus?” ucapnya mengulangi ucapan gadis disampingnya dengan mimik wajah yang sedikit dibuat-buat.

“Ya, udahlah.”

“Huu, dasar si Aneh” jawab Arya tenang.

***


Arya Bagaskoro. Pria sederhana, dan tak ada yang istimewa darinya, karena memang tak banyak yang tahu tentang dia atau memang karena ia lebih suka menyembunyikan semua tentang dirinya.

Karyawan biasa dari sebuah perusahaan di Semarang dan kini tengah ditugaskan ke Jakarta. Walau sebenarnya tak ada keinginan di hatinya untuk kembali ke kota ini, kota asalnya dulu karena dia sudah terlanjur nyaman berada di Semarang.Tapi apa mau dikata, ternyata jalan takdir berkata lain, mau tidak mau akhirnya ia menuruti permintaan atasannya untuk melakukan ekspansi ke Ibukota Negara ini.

Sedangkan gadis manis yang kini berjalan disampingnya adalah sang kekasih hati, kekasih yang selalu setia menemani Arya sejak dia menerima cinta dari Arya, mereka berkenalan di sebuah acara yang diadakan salah satu sahabat mereka.

Asty Kusumaningrum, atau biasa di panggil Asty, Ty, atau beberapa teman memanggilnya Ndut. Wanita cantik, periang, dan manja dengan pipi chuby-nya yang terlihat menggemaskan.

Asty akhirnya memutuskan untuk mengajukan permohonan pindah tugas ke kantor tempatnya bekerja yang bergerak di bidang Advertising. Tapi semua kesibukannya itu semua seperti tak mempengaruhi hubungan mereka. Saling percaya itu yang menjadi prinsip sejak pertama kali mereka berkomitmen menjalin cinta. Walau ada yang belum mereka tahu, bahwa kepercayaan tak selalu berbanding lurus dengan harapan dan kenyataan.

***

“Asty!!! Arya!!” teriak seorang gadis dari seberang sambil melambaikan tangannya.

“Hai..,El!” Asty pun membalas lambaian tangan gadis itu dengan senyum ceria.

Perlahan gadis itu menghampiri mereka berdua.

“Cie…makin lengket aja kayak perangko,” godanya yang segera disambut Asty dengan sebuah cubitan kecil dilengannya.

“Mulai jail deh.” Sergah Asty kemudian.

“Gimana presentasi tadi?”

“Biasa aja tu, lancer-lancar aja.”

“Oh, bagus deh. Eh, kalian berdua udah makan belum, spesial hari ini aku traktir deh.”

“Wuih, beneran El? Tumben-tumbenan, baru dapet arisan?” celetuk Arya.

“Ye…, kapan sih aku bohong, mau nggak nih, sebelum aku berubah pikiran.”

“Mau.”
“Mau” Jawab mereka hampir bersamaan.

***


Ellyana Putri, biasa dipanggil Elly oleh sahabat-sahabatnya, adalah teman Asty di kantornya yang lama di Semarang, yang sekarang kebetulan juga berkantor di gedung yang sama, walaupun berbeda perusahaan. Mereka bertemu secara tidak sengaja di lift gedung saat usai jam kantor, mereka berdua sama-sama merasa menemukan partner in crime dalam hal hobi dan sesi curhat-curhat tentunya.

***


Eh El, kamu jadi mau tunangan sama Akbar? tanya Asty sambil melahap sebuah bakso utuh kemulutnya, pipinya tampak menggembung semakin terlihat lucu.

Doain aja ya, kalian sendiri gimana? Udah luamaaaa banget pacaran, tapi gak pernah ada peningkatan, gimana sih Ar? Cemen banget sih jadi cowok, ucap Elly ganti membalik tanya pada mereka.

Bukannya cemen El, tapi ada yang lagi sibuk merintis karir, siapa tahu nanti kalau udah sukses bisa dapat cowok yang lebih baik atau ganteng lagi, goda Arya sambil melirik gadis yang kini sedang mengunyah bakso yang duduk di sampingnya.

Asty hanya diam, menghentikan kunyahannya lalu memandang Arya dan Elly secara bergantian dengan tatapan sebal.

“Hehe, peace, peace…, becanda..becanda,” ujar Arya sambil mengacungkan dua jarinya, lalu mengelus rambut Arya. Ia tahu pasti gimana tabiat kekasihnya ini nanti kalau sudah mulai ngambek.

Elly hanya tersenyum melihat tingkah mereka berdua.

Eh ntar aku sama Akbar mau ke Bandung, kalian mau nitip apa ni?”

“Emm….apa yaaa…? Bawain makanan khas Bandung aja deh El, hihi,” kata Asty sambil terkikik kecil.

“Huuu makan mulu, pipi tu udah makin kayak bakpau aja,” celetuk Arya.

“Biarin, mang napa, gak mau? weeekkk…..” jawabnya sambil memeletkan lidah.

“Hehe, udah-udah, pada kaya anak kecil aja kalian, kalau kamu pesen apa Ar? Mumpung aku lagi baik nih.”

“Gak usah deh El, lagian aku ntar juga mau pergi kok, mungkin sampai besok atau lusa, mumpung libur weekend.”

“Nanti kamu mau pergi?” tanya Asty.

“Iya, aku diminta nganterin Wawan ke rumahnya di Bogor, emang kenapa?” Arya balik bertanya.

“Nggak apa-apa kok, terserah kamu. Eh El, aku duluan ya, aku lupa kalau hari ini ada janji mau perawatan ke salon sama Yulia..” Asty beranjak dari bangkunya dengan terburu-buru sambil menyambar tasnya.

“Lho kok buru-buru sih say?” tanya Elly.

“Iya, nggak enak sama Yulia kali telat, ya udah ya El, thank’s buat traktirannya, bye..”

“Iya, kok buru-buru amat sih, tak anterin ya,” Arya menyambung.

“Gak usah!” jawab Asty ketus sambil berlalu keluar dari foodcourt tempat mereka makan.

Sepeninggal Asty, Elly dan Arya hanya terdiam, lalu sejenak mereka berpandangan, saling tersenyum, dan kemudian mulai tertawa.

“Parah kamu Ar,” ucap Elly sambil meminum lemon tea di depannya dari sedotan.

“Nggak apa-apa lah, sekali-kali,” sambung Arya sambil tampak tersenyum puas.

***


Asty berdiri merenung di balkon kamar kost-kostannya di lantai 3, merasakan semilir angin malam yang lembut berhembus membelai wajahnya. Ditatapnya langit yang menghampar luas tak berujung pandang. Tak ada bintang malam ini, karena di sini memang tak pernah ada bintang. Cahaya lampu kota Jakarta seakan mengusir mereka.

Tapi di kejauhan sana, ia melihat satu bintang yang bersinar redup, mencoba bertahan menampakkan sinarnya. Bintang itu tampak kesepian, sendiri diantara kegelapan. Sama seperti yang ia rasakan saat ini, sendiri dan kesepian.

Sekarang sudah hampir jam 12 malam dan tak ada satupun disini yang ingat hari ulang tahunnya. Memang merepotkan hidup sendirian di kota besar. Dia membayangkan andai saja dia sekarang berada di rumah keluarganya di Semarang sana, mungkin suasananya akan lain.

Mungkin ibunya akan membuatkan sebuah cake ulang tahun kecil dengan lilin-lilin kecil yang menyala di atasnya, dan menu nasi kuning yang akan dibuat khusus oleh ibunya untuk melengkapi kebahagiaannya ketika hari ulang tahunnya. Tapi disini, jangankan ada yang tahu, pacarnya sendiripun lupa akan hari ulang tahunnya. Semua memang nampak telah berbeda.

Tok!! Tok!! Terdengar suara pintu kamarnya diketuk. Malas dia beranjak dari tempatnya berdiri kini. Diacuhkannya suara ketukan pintu itu.

Dokk!! Dokk..!! Kembali suara pintu terdengar diketuk semakin keras, lebih mirip dipukul daripada diketuk dengan pelan. Ini sudah melampaui batas teratas toleransi kesopanan dalam mengetuk pintu kamar seseorang, pikirnya. dan mengusik ketenangannya. Hingga mau tak mau dengan sedikit kesal ia melangkahkan kaki ke arah pintu, lalu perlahan membukanya.

“Happy birthday, happy birthday, happy birthday to youu….”
Di depan pintu tampak Elly membawa sebuah kue ulang tahun dengan lilin yang menyala kemerahan di atasnya. Sementara dibelakangnya Akbar terlihat tersenyum dengan membawa sebuah kado besar.

“El.., apaan ini?” tanya Asty agak terkejut.

“Tadaaaa…..! Surprise kecil-kecilan aja, katanya suruh dibawain makanan,” jawab Elly bercanda.

“Kamu tu ya El. Masuk dulu El, Bar.” Asty mempersilahkan kedua sahabatnya masuk ke dalam.

Elly dan Akbar pun masuk mengikuti Asty ke dalam, diletakkannya kue tart kecil itu di meja.

“Ditiup dulu dong lilinnya,” kata Elly pada Asty.

“I-iya,” ragu-ragu Asty untuk meniupnya, beberapa kali ia menoleh ke arah pintu yang sengaja ia biarkan terbuka. Berharap ada lagi yang akan datang, tapi tak ada lagi seseorang yang datang, mungkin dia benar-benar lupa.

“Ayo donk tiup, kok malah bengong.” Elly menyadarkannya.

“I-iya…fuuuhhh….” Asty meniup lilin itu dengan ragu-ragu, ada yang sedikit mengganjal di hatinya.

“Yeee…..met ultah ya say,” ucap Elly bertepuk tangan lalu mencium pipi kiri kanan Asty.

“Makasih ya El.”

“Met ultah ya Ty, ini kado dari kita berdua,” sambung Akbar sambil memberikan sebuah kado besarnya.

“Makasih ya Bar, kalian emang baik banget,” sambil di terimanya kado itu.

“Eh Ty, si Arya beneran gak dateng?” tanya Rena.

“Tahu lah El, biarin ajalah, mungkin aku udah gak dianggep penting lagi, lagian aku juga udah nggak ngarepin dia dateng,” jawab Asty sambil menekuk wajahnya.

“Udah dong, masa ultah tapi malah cemberut gitu, senyum dikit sih.” sambil dipegang dan diangkatnya dagu Asty.

“Iya, hehe.” Asty tertawa kecil, walau terkesan agak dipaksakan.

“Tapi beneran nih gak mengharap dia dateng, hehe.”

“Iya, udah gak butuh dia dateng!”

“Bener nih gak pengen aku dateng..? Woy El kamu jahat banget sih, masa aku disuruh bawa boneka segede gaban gini sendirian dari bawah.” Terlihat seseorang mulai memasuki pintu, sambil tampak tergopoh-gopoh membawa sebuah boneka beruang Brown raksasa yang hampir menutupi setengah badannya.

“Arya…?” ucap Asty lirih sambil menengokkan wajahnya ke arah Elly.

“Hihi, kue ini juga Arya kok yang beli, aku cuma bantu bawainnya ke atas.”

“El…kalian…hiks…” Asty tak sanggup meneruskan ucapannya, tangannya mengulur memeluk Elly, “kalian ngerjain aku ya.?”

“Bukan ngerjain, tapi surprise. Udah…udah, masa pangerannya dateng malah mewek sih.”

“Ty…,” ucap Arya setelah meletakkan boneka besar itu di atas meja.

Asty melepaskan pelukannya dari Elly, lalu melangkah mendekati laki-laki yang memanggilnya. Ditatapnya tajam mata pemuda yang kini berdiri di depannya, mata itu, mata yang selalu memberinya ketenangan, mata yang sanggup merontokkan resahnya, mata yang tak pernah memberinya kebohongan.

“Selamat ulang tahun ya..” lanjut Arya meneruskan ucapannya, sebuah senyuman mengembang dari bibirnya.

Asty hanya diam, masih ditatapnya mata Arya dengan tajam, sebelum sesaat kemudian…

“Ar…kamu juga jahat banget…hiks,” ujarnya sambil menghambur memeluk sosok yang berdiri di depannya.

Ditumpahkannya segala kerisauan yang memenuhi dadanya, ditumpahkan ke dalam pelukan laki-laki yang selalu mau menjadi tumpuan saat dirinya rapuh dan lemah, laki-laki yang slalu mau untuk di bagikan segala lara dan dukanya.

Elly hanya tersenyum, bahagia rasanya melihat dua sahabatnya selalu mesra seperti ini, waktu seperti tak mampu melunturkan rasa di antara mereka.
Didekapnya semakin erat lengan Arya yang berdiri disampingnya, lelaki yang akan segera menjadi tunangannya.

Malam itu mereka habiskan dengan bercanda ria bersama, saling membagi bahagia.

Bercerita, tersenyum, tertawa bersama, melupakan sejenak segala permasalahan dan duka yang ada. Mengenang saat-saat indah saat masih bersama di Semarang dulu kala, bercerita tentang rencana-rencana, tentang cita-cita di masa depan, dan apapun yang bisa mereka ceritakan.Saat ini seakan ingin waktu tak segera cepat berlalu. Tapi bagaimanapun juga waktu akan terus berputar, bagai roda nasib manusia yang slalu berputar tapi tak tau akan menuju kemana.

***

“Eh say, udah ya kita pulang dulu.”

“Buru-buru amat sih El, nginep sini aja napa?”

“Udah malem Ty, udah pagi malahan, lagian kita juga gak mau ganggu pasangan yang lagi merayakan hari spesial, siapa tahu habis ini masih ada hadiah tambahan, hehe.”

“Ih, apaan sih El.”

“Ayo, beb pulang,” ucap Elly sambil menarik tangan Akbar.

“Hati-hati ya.”

“Sekali lagi selamat ulang tahun ya say,” ucap Elly sambil cipika-cipiki dengan Asty.

“Iya, El, makasih banget, kamu emang sahabat terbaik kita.”

“Selamat ulang tahun ya Ty,” Akbar menambahkan.

“Makasih ya Bar. Inget jagain terus Elly.”

“Sip, tenang aja,” jawab Akbar sambil mengacungkan jempolnya.

“Udah ah yuk beb, bye Asty, Arya,” ujar Elly sambil menggandeng tangan kekasihnya melangkah menuju pintu.

“Sekali lagi makasih ya El.”

“Sippp…” ucap Elly sambil melangkah keluar, lalu hilang bersama di tutupnya pintu kamar kost Asty.

Kini mereka hanya berdua, Asty beranjak menghampiri kekasihnya yang duduk di kursi, lalu ikut mendudukkan badannya di samping lelaki itu. Dilingkarkan tanganya di lengan sang kekasih sambil menyandarkan kepala di pundak Arya.

“Ar, maaf ya, aku udah mikir yang nggak-nggak, ku kira kamu lupa sama ulang tahun aku” ucap Asty pelan.

Arya hanya tersenyum kecil, direngkuhnya kepala yang bersandar di pundaknya ke dalam pelukan, di ciumnya kening wanita itu dengan penuh sayang.

“Ty, selama kita menjalin hubungan apa aku pernah sekalipun melupakan ulang tahunmu?”

“Ya gak sih, tapi kan siapa tahu.”

“Hehe, bener juga ya, untung tadi Elly ngingetin, kalau gak bisa kelupaan aku.”

“Tu kan bener,” rajuk Asty sambil bangkit dari tempatnya bersandar dan menghujani kekasihnya itu dengan cubitan.

“Haha, ampun, ampun Ty.” ucap Arya sambil menangkis setiap cubitan yang datang padanya.

“Biarin aja, siapa suruh lupa sama ulang tahun aku,” kembali digembungkan pipinya yang selalu tampak menggemaskan.

“Becanda kok becanda, tanya aja sama Elly, mungkin aku akan lupa sama ulang tahun aku sendiri sebelum lupa sama ulang tahun kamu.”

“Bener?”

“Beneraan.. Suerrr..!!” Arya mengacungkan dua jarinya.

“Awas kalau bohong.”

“Iya. Enggak.”

“Ar, aku sayang banget sama kamu,” kata Asty dengan manja lalu kembali menyandarkan kepalanya di pundak sang kekasih.

“Aku juga sayang kamu.” sambil kembali di cium mesra kening gadis yang bersandar di badannya.

“Ar, aku kangen saat-saat kita pas masih di Semarang dulu.”

“Aku juga.”

“Aku kangen suasana Jalan Pahlawan, Taman KB, kangen ramenya Simpang Lima kalo lagi malam minggu, kangen liat view kota Semarang dari Gombel pas kita dinner di sana waktu dulu, aku kangen saat-saat itu semua.”

“Hehe, indah banget ya saat itu.

“Kamu bener Ar, Jakarta gak seindah Semarang, bahkan aku gak bisa melihat bintang di sini.”

“Gak juga, semua tempat punya keindahannya sendiri.”

“Tapi tidak di Jakarta.”

“Kamu tahu, ada satu persamaan antara di Semarang dan Jakarta.”

“Apa?”

“Bahwa kita masih melihat matahari yang sama.”

“Maksudmu?”

Arya melihat ke arah jam tangannya, lalu berkata, “tunggu sebentar lagi.”

Beberapa saat kemudian Arya menarik tangan Asty berdiri, “Ayo.”

“Kemana?”

“Udah, ikut aja.”

Arya menarik tangan kekasihnya ke balkon kamar kostnya di lantai 3 itu, menyandarkan telapak tangan Asty di pagar kecil yang menjadi penghalang balkon, lalu memeluk kekasihnya itu dari belakang.

“Lihat di sana,” ucap Arya sambil menunjuk langit timur.

“Apa?”

“Udah, lihat terus aja.”

Langit masih tampak terlihat hitam, tak ada yang bisa dilihat di sana. Sampai perlahan setitik sinar mulai muncul di sana, lalu perlahan setitik sinar itu mulai merekah, menjadi guratan-guratan yang menjalar di langit fajar.


Dan perlahan matahari pagi mulai menampakkan dirinya. Menyapukan warna kemerahan di ufuk timur langit pagi kota Jakarta. Seakan memberitahukan bahwa akan ada pagi setelah malam dan akan terbit terang setelah gelap. Cahayanya redup, masih sangat lembut bercampur dengan udara pagi yang masih sangat sejuk. Seakan memberi harapan baru untuk jiwa-jiwa lelah yang hampir menyerah.

“Ar, indah banget.”

“Itu matahari yang sama, dengan yang kita lihat di Semarang.” ucap Arya sambil melingkarkan tangannya di perut Asty.

“Selama aku tinggal disini, baru kali ini aku melihatnya.”

“Ya karena kamu selalu bangun kesiangan, hehe” ujar Arya yang mengetahui kebiasaan buruk kekasihnya ini.

“Ihh… Masih aja deh..!” Asty mencubit tangan yang kini sedang memeluk tubuhnya.

“Indah kan?” ucap Arya lalu meletakkan dagunya di pundak Asty, hingga kini pipi mereka bersentuhan.

“Iya, indah, banget.” jawab Asty sambil menatap nanar keindahan alam yang berada di depannya.

Sementara mentari perlahan mulai naik memperlihatkan bentuk aslinya, menyinari atap-atap rumah. Membagi cahayanya pada seluruh alam, menyiram kota Jakarta dengan warna jingga kemerahan yang meneduhkan jiwa.

Asty diam tertegun. Kekasihnya benar, itu adalah matahari yang sama, dimanapun sama. Entah mengapa, namun melihat matahari terbit selalu bisa menggetarkan hatinya, seakan dia terhipnotis dalam kemegahan, jatuh dalam sebuah pelukan Maha Besar.

“Arr.”

“Iya..”

“Apakah semua kisah kita ini nyata?”

“Aku juga nggak tahu.”

“Apakah kita bisa terus sama-sama selamanya?”

“Mungkin,” ucap Arya pendek sambil mencium pipi kekasihnya.

“Ar, gimana kalau nanti aku mati lebih dulu daripada kamu,” tiba-tiba Asty menanyakan sesuatu yang terasa aneh di telinga Arya.

“Aku akan sedih banget pastinya, tapi aku akan melanjutkan hidupku,” jawab Arya tenang.

“Apa kamu tidak akan kehilangan aku?”

“Kan tadi aku udah bilang kalo aku bakalan sedih banget, aku sampai nggak mau membayangkannya. Aku pasti akan kehilangan, karena kamu sudah menjadi separuh bagian dari hidupku.”

“Lalu kenapa?”

“Karena semua yang hidup pasti akan mati. Seratus atau duaratus tahun semua sama saja, akan berakhir di satu titik yang sama. Dan aku juga tahu, andai kamu pergi lebih dulu, kamu akan tetap setia menungguku disana, diseberang jembatan pelangi, menungguku dengan sebuah senyuman manismu, karena aku tahu bahwa semua orang akan mengalaminya, hanya tinggal menunggu waktu saja. Jangan takut mati, kalau kamu ngerasa hidup sekarang. Tak ada yang abadi disini Ty, tapi ada yang abadi di sana.”

“Hihi, kamu benar Ar.”

“Kenapa malah ketawa.”

“Karena setiap ucapanmu selalu terasa masuk akal buat aku.”

“Lalu bagaimana kalau aku yang mati lebih dulu,” Arya balik bertanya.

“Aku juga akan melanjutkan hidupku, karena aku juga tahu kamu akan menungguku disana.”

“Janji, saling menunggu?”

“Janji, hihi.”

Matahari merangkak semakin menampakkan wujud sempurnanya, menyinari dunia dengan cahaya yang mulai menghidupkan kembali deru kehidupan kota. Udara mulai menghangat menggantikan sejuknya hawa pagi. Malam telah berakhir, tapi di sebuah balkon lantai tiga di bilangan Utara Jakarta, kemesraan belum berakhir. Sepasang kekasih masih tampak menikmati keindahan pagi yang ceria, karena di hati mereka sedang penuh dengan cinta.

“Ar, aku sayang kamu” Asty menolehkan wajahnya kesamping dan kemudian bibir mereka saling beradu, melumatkan segala perasaan sayang dan cinta menjadi satu sehingga kekuatannya tidak akan pernah dapat diruntuhkan. Membuat mereka yang merasakannya tidak akan pernah menyesali atas apa yang mereka telah, sedang, dan akan lakukan, asalkan mereka terus bersama.

***

Dua tubuh insan berlain jenis itu masih terbaring lemas di atas ranjang. Tubuh mereka masih telanjang setelah baru saja melakukan pergumulan yang penuh dengan tumpahan cinta kasih, dan sangat melelahkan tentunya, melengkapi malam bahagia mereka saat ini.

Si lelaki berbaring terlentang sedangkan kekasihnya tidur bersandar dadanya. Tangan lelaki itu mendekap sambil membelai-belai rambut gadis di sampingnya. Sebuah belaian mesra, penuh rasa cinta.

Di luar, matahari pagi semakin beranjak tinggi. Menyinari dunia dengan sebuah cahaya hangat yang seakan memberi warna dan semangat baru bagi semua yang bernyawa. Membuka dan menutup lembar demi lembar perjalanan waktu. Kisah panjang dunia, kisah panjang garis takdir manusia.

“Ar, semoga kisah cinta kita ini tidak cepat berakhir.” ucap Asty sambil menyandarkan kepalanya di dada Arya.

“Tapi semua kisah pasti akan ada akhir Ty, seperti matahari yang sinarnya akan berakhir ketika menjelang senja.” jawab Arya tenang sambil menatap kosong langit-langit kamar.

“Tapi aku belum bisa Ar, aku terlalu sayang sama kamu.”

“Iya. Aku tahu, aku juga,” balas Arya sambil mencium kening Asty, ditariknya semakin rapat selimut yang membungkus tubuh telanjang mereka berdua.

Dilihatnya wanita disampingnya sudah kembali terlelap dalam tidur. Senyum kecil mengembang dari bibir lelaki itu melihat lucunya wajah kekasihnya saat sedang di buai mimpi. Perlahan ia juga memejamkan matanya, mengejar sang Dewi ke alam mimpi, kembali bertemu disana, bercanda, bercumbu, dan dia slalu berharap selalu dalam mimpi, tak ingin terbangun lagi.

***

Melambung jauh terbang tinggi

Bersama mimpi

Terlelap dalam lautan emosi

Setelah aku sadar diri

kau tlah jauh pergi

Tinggalkan mimpi

yang tiada bertepi

***


TAGS Cerpen Fiksi Asmara


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post