Pulang

28 Jul 2013

…Kembali, kulihat awan membentuk wajahmu
Desah angin meniupkan namamu
Tubuhku terpaku, semalam…

Secangkir coklat panas yang sengaja kubuat beberapa menit yang lalu, untuk menghangatkan suhu teras yang menurun tak terkendali akibat diserbu hujan deras menjelang malam. Aku mengambil tempat yang kuanggap nyaman untuk menikmati hujan sore ini dengan sesekali menyeruput coklat panas, dan menghisap beberapa batang rokok mild, ya, aku menjadi seorang perokok wanita beberapa waktu lalu yang awalnya hanya sekedar untuk menetralkan pikiran yang menjadi tidak stabil karena kejadian itu. Tabu? Ya, akupun merasa demikian pada awalnya, tapi persetan dengan semua pandangan aneh orang lain tentang seorang wanita perokok, toh itulah memang keahlian mereka, men-judge orang lain seenaknya tanpa pernah mau sedikit berusaha melihat dari sisi lainnya. Mereka jelas tidak mengetahui apa yang sedang kuhadapi, yaitu kepergiannya, kekasihku.

Sesekali kubuka linimasa sekedar mengetahui apa yang sedang hangat dibicarakan di dunia maya, yang kuharap juga cukup bisa membantu diriku menghangatkan hati ini. Aku pun tak mengira kenapa hati ini bisa menjadi sedingin ini, dan saat ini, alam semesta ini rasanya malah memperparah kebekuan hati yang beberapa waktu belakangan ini sedikit demi sedikit semakin menyiksa.

Akhirnya, aku tak bisa menahan untuk mengintip aku sosial media miliknya.

Kubuka halaman profilnya.
.
.

“Ahhh.. Masih sama! Masih belum ada update dari dia!” Umpatku dalam hati ketika melihat last seen update-nya masih di 29 days ago.

Kicauan terakhirnya adalah Rinjani, aku tahu persis apa maksud dari kicaauannya itu. Karena memang sebelum itu, dia bercerita kepadaku dengan begitu bersemangatnya akan keinginannya untuk mendaki gunung eksotis itu. Seorang diri.

“Kamu gila!!”

“Tapi ini mimpi aku udah lama, sekarang waktu yang tepat menurut aku. Im free for now”

“Nggak! Kamu nggak boleh pergi kesana, terlalu bahaya, terlalu ekstrim!”

“Tapi aku udah ngerti banget medannya, aku udah dua kali ngedaki Rinjani. Dan sekarang, I
want to push myself to hike her, by myself!”

“Ar, please Dont do that ya Ar…” Aku hanya bisa mengiba pada Ardi untuk mengurungkan niatnya mendaki Rinjani seorang diri.

Tapi nampaknya aku tidak akan berhasil kali ini, dengan melihat aura semangat di wajahnya, cukup untuk aku yakin bahwa segala usahaku untuk mengehntikannya hampir mustahil. Aku cukup mengenal karakter keras kepalanya yang telah mendarah daging di dalam dirinya itu. Aku yakin sekali dia tetap akan berangkat, meski aku berusaha melarangnya. Aku sebenarnya tidak meragukan kemampuannya dalam mendaki gunung, kecintaannya pada alam telah ada semenjak dia di masa SMA, dan berlanjut sampai aku bertemu dengannya di semester tiga di kampus. Bahkan setelah lulus, dan mulai disibukkan dengan rutinitas pekerjaan, dia pasti akan tetap mencari cara untuk mendapatkan waktu menyalurkan hobinya ini. Dia pernah bercerita kepadaku, bahwa dia ingin menjadi seorang pengusaha sukses, sehingga dia tidak perlu bekerja untuk orang lain lagi dan memiliki lebih banyak waktu untuk memuaskan hasratnya sebagai pendaki gunung.

Hampir semua gunung yang memiliki jalur pendakian di pulau Jawa ini, dia pernah taklukan, dan sisanya tersebar di seluruh kepulauan negeri ini. Tapi aku jelas tidak kuatir sampai keterlaluan seperti saat ini, karena dia pasti berangkat dengan teamnya dalam setiap pendakian itu.

Tapi kini, dia mau mendaki Rinjani sendirian. Gila!

“Kamu yakin Ar?” tanyaku sambil membantunya mempacking barang-barang bawaannya.

“Asty.. Kamu tau kan, ini impianku sejak lama?”

“Iya, tapi kenapa kamu harus sendirian yang kesana?” Aku tidak bisa lagi menyembunyikan kekuatiranku akan rencananya ini.

“Aku janji, Aku pasti pulang.” Ardi mencoba menenangkanku.

“Kamu janji kan?”

“Aku janji! Aku tahu kemana aku harus pulang. Aku mencintaimu.” Jawabnya sambil mencium keningku.

Aku kemudian memeluknya dengan sangat erat, mencoba memberikan isyarat bahwa aku tak ingin membiarkan dia pergi, kali ini.

Perlahan dia mencoba mengendurkan pelukanku seraya berkata;

“Kamu harus tau, hidup ini adalah sebuah perjalanan yang diselingi oleh beberapa persinggahan, dan aku belum pernah, belum pernah sekalipun menemukan tempat persinggahan paling nyaman sebelum aku singgah di kamu. Dan aku ingin menetap disana, selamanya.”

Air mataku tak dapat kubendung lagi, mereka tumpah seakan melampiaskan perasaanku ini.

..

Dan hari ini, hari keduapuluh sembilan setelah kepergiannya untuk mewujudkan impiannya, belum juga ada kabar tentang keberadaan dirinya. Aku hampir putus asa mencari petunjuk tentang keberadaan Ardi. Semua kerabat dan sahabatnya tidak ada satupun yang mengetahui keberadaan dirinya sekarang ini, bahkan keberangkatannya ke Rinjani. Mereka hanya tahu jika dia sedang dalam perjalanan dinas keluar kota.

Ini sungguh tidak masuk akal! umpatku dalam hati sambil mematikan sisa rokok mild yang ada di tanganku, menghabiskan sisa coklat panas yang sudah mulai mendingin, dan menutup halaman profil akun sosial media miliknya dan memilih untuk menenangkan diri di dalam kamarku.

Di dalam kamar bernuansa pastel ini, aku mencoba menenangkan diri sambil memutar lagu secara acak lewat ipod yang tergeletak di atas meja di dalam kamarku.

Sayangku,
Kupercaya alam pun berbahasa
Ada nakna di balik semua pertanda
Firasat ini
Rasa rindukah ataukah tanda bahaya
Aku tak perduli, kuterus berlari

Cepat pulang, cepat kembali jangan pergi lagi.
Firasatku
Ingin kau tuk cepat pulang, cepat kembali jangan pergi lagi…

Ini hari keduapuluh sembilan, aku tak juga mempunyai satu petunjuk pun tentang keberadaan Ardi, tidak satu petunjuk pun. Tidak ada yang bisa kulakukan, semoga alam semesta dapat membaca permohonan sederhanaku saat ini. Aku ingin dia pulang.

Kata pulang menjadi suatu bias bagiku saat ini, apakah aku adalah benar tempatnya untuk pulang, atau hanya sebagai persinggahan ternyamannya. Entah dimana sebenarnya tempat yang dia maksud sebagai tempat ternyaman untuk pulang. Disini, bersamaku, atau disana tempat yang darimana dia berasal, kita semua berasal.

Inspired by song: “Firasat”


TAGS Cerppen Fiksi Pulang Pergi Firasat #Perjalaanan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post