“Our Dream, Our Faith!”

13 Jul 2013

Tangerang, Batam, Surabaya. Tiga kota ini menjadi semacam panggung pertunjukan untuk kami, panggung hidup kami. Berawal di kota yang sama, dan sekarang, jalan cerita yang sedang kami lalui membawa kami bergerak mengikuti setiap pasang kaki kami melangkah saling menjauh menuju kota tujuan kami masing-masing. Sebagian menetapkan kaki dan hidupnya untuk tetap melangkah di kota dimana kami dipertemukan, sebagian lain memutuskan untuk terus melangkahkan kaki dan hidupnya ke kota selanjutnya, menyusun cita, merajut kisah, dan membangun cerita baru dari kehidupan kami tanpa pernah melupakan cerita lama yang telah mempertemukan kami, membentuk kami seperti ini.

Ini kami, yang selalu mengutarakan idealisme kami dengan cara kami masing-masing. Kami dipertemukan oleh apa yang kami sebut; “Cinta Tanpa Syarat”. Cintanya Sang Maha Cinta. Agape. Tidak heran jika sebagian dari kami pernah mencicipi, mengecap, dan termabukkan oleh cinta yang bersemi di bawah pengaruh “Cinta Tanpa Syarat” itu. Sebagian ada yang hanya sekedar “mencicipi”, sebagian yang lain malah berhasil mengubah sebuah “persahabatan” menjadi sebuah komitmen suci. Ahh, itulah kehebatan dari Sang Maha Cinta. Tidak diragukan jika dia memang penulis skenario terbaik tentang kehidupan.

Kami pernah bersepakat, seakan ke-17 otak kami ini satu irama, seakan dunia pasti tunduk kepada keinginan kami. Kami pernah berselisih, sering bahkan, berjuang memperjuangkan ego kami masing-masing untuk didengar, dan dianggap terhebat dari para orang hebat lainnya. Dunia dalam genggaman kami.

Mimpi besar kami bangun bersama, kami terlihat gagah, sangat gagah. Dari persahabatan, menjadi sebuah keluarga. Kemalangan tak lagi menjadi cerita sedih, justru itu yang membuat kami semakin kuat. Tidak akan sulit bagi kami untuk menemukan satu waktu diantara sekian banyak kesibukan yang harus kami terjang, demi satu alasan, solidaritas!

Di setiap pertemuan rutin itu, selalu ada celotehan renyah tentang kami, tentang masa depan. Celotehan yang merangsang asa dan imajinasi tentang akan-menjadi-apa-kami di masa depan.

“Eh, lima apa sepuluh taun ke lagi kira-kira kita bakal gimana ya?” Tiba-tiba Jessie melontarkan pertanyaan sederhana namun membutuhkan imajinasi tinggi untuk menjawabnya.

Tiba-tiba pikiranku langsung terbang menerawang tentang masa depan, tentang impian, tentang ambisi yang ingin dicapai. Entah apa yang ada di balik kepala sahabat-sahabat lainnya yang juga duduk di meja yang sama malam itu. Malam itu, di meja sebuah cafe di tepi Sungai Cisadane tempat biasa kami berkumpul, selain ada Jessie, juga ada Ira, Martini, Elva, Hengky, Cimot, Miller, Jerry, Asep, Regent, dan juga aku tentunya, ditantang untuk berimajinasi lewat celetukan Jessie.

“Kawin lah!!” Sergah Hengky tiba-tiba.
“Nikah dulu kali bang..” Ucap Martini sambil menoyor kepala Hengky.

Kemudian tawa kami meledak bersama, mendominasi cafe yang saat itu juga tengah ramai pengunjung.

“Tau nih Hengky, kawin mulu pikiranya!” Regent menimpali.

Kemudian satu per satu dari kami mengutarakan impian dan imajinasi kami masing-masing. Impian-impian biasa; Mempunyai usaha pribadi, memiliki kendaraan, rumah, menikah dan membayangkan lima atau sepuluh tahun lagi, kami sedang berada di depan gerbang sekolah, mengantar anak-anak kami nanti masuk sekolah pada hari pertama. Silahkan kalian tersenyum membaca impian-impian kami. :)

Ketika malam semakin larut, kami para pria, setelah mengantar para wanita kembali ke rumah mereka masing-masing, kembali berkumpul di alun-alun kota Tangerang, menghabiskan sisa malam kami. Obrolan tentang masa-lima-sepuluh-tahun-lagi-mau-jadi-apa pada malam itu ternyata masih berlanjut di alun-alun kota pada sisa malam kami itu.

“Eh.. Eh.. Nanti gue bakal bilang sama anak gue: Nak, kamu jangan pacaran sama anaknya Om Miller ya! Bapak tau banget masa mudanya Om Miller itu!” Ucap Jerry berkelakar.

“Nak, kamu nanti jangan pacaran sama anaknya Om Cimot ya! Masa mudanya Om itu bapak tau banget dia itu playboy!” Miller menyambung kelakar Jerry.

“Nak, kamu nanti jangan makan jagung bakar di depannya Om Nicka ya! Bapak tau banget masa mudanya Om Nicka itu, bisa digigit kau nanti sama dia!” Ujar Cimot sambil melakukan serangan balik kepadaku.

Tak ada satupun dari kami yang tidak tertawa mendengarnya, tawa kami lepas, selepas-lepasnya.

Ahh… Ingin aku kembali di waktu-waktu yang penuh dengan mimpi itu. Tapi kini jarak telah memisahkan sebagian dari kami. Hari ini, sedikit demi sedikit impian-impian sederhana kami empat tahun yang lalu, mulai menjadi kenyataan. Beberapa diantara kami telah menikah, dan akan segera menikah. Beberapa diantara kami, telah memiliki apa yang empat tahun lalu hanya menjadi imajinasi. Dan sebagian lagi masih tengah mencoba membangun dan meraih impiannya masing-masing. Sang Maha Pencipta Imajinasi rupanya tidak serta merta tidak perduli akan impian para penghuni semestaNya. Dia campur tangan!

Dari sini, dari Pulau Batam, saya masih menyimpan kenangan-kenangan bersama kalian itu. Kepada kalian semua para “OF Crew” generasi 1.0 dan generasi 2.0, tulisan ini saya dedikasikan. Kepada kalian para OF Crew di Tangerang, Surabaya dan kota-kota tempat rumah selanjutnya dari kita hari ini dan di masa nanti; We might be apart, but our faith be still chain us.

OurFaith

OurFaith

OurFaith

OurFaith

OurFaith

OurFaith


TAGS Friendship Dream Future


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post