Kemarin

30 Apr 2013

Empat puluh lima menit sudah aku berdiri di titik yang sama ketika aku datang disini. Ini Minggu, Minggu yang janggal. Minggu pagi yang tak seperti biasanya kulewati. Dengan cuaca yang nampak sama cerah seperti cuaca minggu pagi di kota lama, tapi kali ini, agak terasa sedikit sesak. Sesak dalam keterasingan ini. Bukan, aku bukan sedang diasingkan dari kehidupan hari kemarin, tapi aku yang memilih untuk mengasingkan diri dari kehidupan hari kemarin yang kupunya, kemarin.

Kemarinku tidak sama dengan hari ini. Kemarin aku masih bisa merasakan aroma tubuhnya, sentuhan tangannya, dan lembutnya suara yang keluar dari dari bibirnya yang manis. Masih tersisa manis bibirnya itu di bibirku hari ini. Hanya itu yang tersisa dari kemarinku. Kemarin yang kaki ini telah melangkah meninggalkannya menuju hari ini. Hari keterasingan yang kubangun sendiri.

Aku jelas tidak punya petunjuk apapun atas apa yang akan kulakukan disini, hari ini. Tujuan awalku hanya satu, mencari sebuah jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang membuncah di dalam otak ini. Pertanyaan tentang sebuah keyakinan. Aku jelas tidak punya petunjuk apapun tentang ini, tentang itu, tentang semua pertanyaan-pertanyaan yang selalu datang berebut meminta sebuah jawaban.

DHEG!!! Dadaku semakin sempit ketika muncul kesadaran logic bahwa aku sudah hampir satu setengah jam berdiri disini, tanpa tau akan melangkah kemana. Keyakinanku mulai diuji, ragu mulai meraja, apakah aku harus terus melangkah ke hari esok, atau kembali ke hari kemarin dengan segala memori yg kutinggalkan. Entah apa yang kucari disini.

Akhirnya harus kutabrak prinsipku sendiri bahwa aku akan bisa bertahan di kota ini sendiri tanpa harus menyentuh orang-orang yang pernah masuk di hari kemarinku, dulu, dan kemarin. Logikaku mulai menuntun egoku untuk dapat sedikit melunak untuk menghubungi seorang sahabat lama. Untuk meminta bantuan.

Kubuka telepon genggamku, mencari nama yang sebenarnya telah lama tidak pernah kuingat, tapi hari ini aku harus berusaha mengingatnya dan bersentuhan kembali dengan seorang sahabat dari hari kemarinku.

“Yes! Masuk!” Sorakku dalam hati.

Tuuuut….tuuuuttt…tuuuttt…

“Halo! Arya!! Ini beneran Arya!!??” Suara di seberang sana menyahut tampak terkejut.

“Weeii..!! Kalem sob, kalem.. Iya ini gue, Arya.” Jawabku kemudian.

“Apa kabar lo?!” Tanya sahabatku ini.

“Baik, sob. Eh, elo lagi di mana? Bisa jemput gue nggak? Gue lagi di Hang Nadim nih.” Sahutku kemudian.

“WHATTTT..????!!!”
“Lo lagi dimana??!!”
“Nggak salah denger nih gue?” Jawabnya terkejut..

“Tenang dong Pray. Kalem dikit kenapa sih. Bisa nggak nih jemput gue di sini, pulsa gue bentar lagi abis nih.”

“Oke! Gue jemput lo sekarang, tapi nanti elo harus cerita ke gue kenapa lo bisa ada disini! Di Kota Batam!”

……………

“Kalau kamu pergi, apa kamu akan pulang lagi kesini, ke tempat ini dimana kamu meninggalkan aku hari ini?”

“Kalau aku pergi, apa kamu akan tetap menungguku pulang, disini dimana aku meninggalkanmu hari ini?”

Kemudian kami hanya bisa terdiam dan terkubur sesaat dalam sebuah pelukan dan kecupan di bibir.

…………….

Kenangan hari kemarin masih membungkus hari pertamaku disini. Jelas, aku hanya bisa mengandalkan waktu untuk dapat mengikis kenanangan-kenangan hari kemarinku. Tanpa itu, aku akan terus terpasung, terpenjara, dan aku ragu akan bisa lepas dari memori yang terpahat cukup lama. Tanpa itu, tidak mungkin. Karena memang tidak ada niat dariku sedikitpun untuk menghapus memori dari hari kemarin, karena hari kemarin tidak akan pernah musnah, seperti hari ini, adalah hari kemarin dari hari esok.

Esok adalah sebuah tujuan, sebuah titik, titik yang bukan menandakan berakhirnya kalimat tentang hidup. Karena selepas titik, akan ada kalimat lainnya yang menyambungkan kalimat sebelumnya untuk membentuk sebuah kisah. Titik bukan akhir. Aku ingin yang menjadi akhir dari cerita kemarinku, hari ini-ku, dan hari esokku, itu kamu. Karena selama tetap saling menetapkan tujuan, yang berjauhan akan tetap saling menemukan. Entah siapa menemukan siapa, aku hanya ingin kamu untuk terus berjalan, biar aku yang berjuuang menyusulmu disana, di tempat dimana aku meninggalkanmu, kemarin.

Postingan ini ditulis dan diposting menggunakan Blackberry Smartphone Application.


TAGS Kemarin Hari Ini #Perjalanan


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post