Helga Worotitjan: “I Refuse To Remain Silent” Sebuah PERJUANGAN untuk mendukung para penyitas kekerasan seksual dan kekerasan domestik.

3 Aug 2012

Seorang penyitas dari tindak kekerasan seksual, biasanya memiliki trauma yang sangat mendalam. Berbagai stigma yang muncul di masyarakat makin membuat para penyitas ini terkekan secara psikis. Korban tidak berani untuk meminta bantuan kepada pihak lain, disebabkan karena stigma masyarakat tersebut, walaupun hanya sekedar konseling. Tidak begitu banyak lembaga yang aware dengan korban, dan akses informasi yang sangat kurang semakin membuat para korban/penyitas hanya bisa memendam ‘derita’ yang dialaminya.

Tapi bersyukur, dari sekian sedikitnya orang-orang yang perduli dan aware kepada para korban/penyitas. Ada satu sosok yang saya kenal lewat media sosial, yang aktif memberikan support kepada para penyitas kekerasan seksual dan kekerasan domestik.

Dia adalah Helga Worotitjan. Pertama kali saya mendengar namanya adalah ketika sekitar akhir tahun 2011 dia aktif menyuarakan protes keras terhadap salah satu artis lawak Indonesia, yang membuat lelucon-tidak-lucu tentang korban perkosaan di dalam angkutan umum di dalam suatu acara live dari sebuah stasiun televisi swasta. Di situ saya melihat bahwa Mbak Helga-demikian saya biasa menyebutnya- dan beberapa kawan seperjuangannya yang lain sangat berjuang keras untuk memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa tindakan yang dilakukan oleh artis tersebut sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang publik figur. Baca beritanya di sini.

Saya akhirnya tau, mengapa beliau begitu concern terhadap masalah ini. Karena ternyata beliau juga memiliki pengalaman buruk tentang kekerasan seksual di masa kecilnya (child sexual abuse). Kisahnya bisa di baca di blog pribadinya di sini.

Mbak Helga juga aktif di beberapa LSM yang secara khusus memberikan empowering dan bantuan konsultasi kepada para penyitas dari kekerasan seksual, dan pelecehan seksual., diantaranya: Inspirasi Indonesia, dan Lentera Indonesia.

Hari ini saya juga membaca rangkaian share tweetnya di linimasa, tentang pengalamannya itu dan hal-hal yang harus dilakukan oleh para penyitas dan orang-orang di sekeliling penyitas kekerasan seksual. Sungguh sebuah keberanian yang sangat menginspirasi banyak orang, untuk lebih mengerti tentang apa yang dirasakan para penyitas kekerasan seksual.

Setelah meminta izin untuk menampilkan rangkaian kicauannya di linimasa di blog ini. Maka sayapun merangkumnya seperti yang ada di bawah ini, karena beliau men-tweet dalam bahasa Inggris, di bawah tweet nya tersebut, saya mencoba menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia juga. Semoga menginspirasi:

Tweet by @HelgaWorotitjan

Dear survivors, couple days ago I hit by a terrible trauma syndrome. And it’s gone now but I do feel I have to share some tweets with u all.

1. Sorry to write it down in English. Some of my connections here are brave survivors from around the world. Will translate to Bahasa Indo-

2. ..Indonesia & post to my blog. I do hope someone who know how to chill the English tweets will be able to help me after these.

3. Some of u know I’m a child sexual abused & also a domestic violence survivor. Spoke those out last year after some therapies.

4. I work hard to particularly learn, collecting infos-datas & do simple researches by my self about sex/gender base violence for years.

5. Trauma healing for #SA (sexual abuse) & #DV (domestic violence) survivors is a life time healing process. Let’s underline this first.

6. The trauma, survivors accidentally keep it in BRAIN & MUSCLE memories. When we’re attacked with the condition that has similar situation

7. …with what happened no matter how long it’s happened. Survivors brain automatically ‘plays’ again what were recorded…& it will

8. …put survivors on some low depression or manic/hysteria condition & brain also release it to muscles & some parts of the survivors body

9. ..those can cause gastro problem, headache, diarrhea, chest pain, bad muscle stretch, itching, stomach ache, hair loss, whitish etc..

10. ..physical effects. When it happened, survivors have to back off from their activities for a while to make a ‘distance’ from the trauma

11. ..trigger condition to avoid the physical effect getting worse.

12. It’ s okay to feel torn inside, don’t deny the feeling, confront it. It was NOT OUR FAULT to be victims & it’s okay to feel that way.

13. Survivors can do breathing exercise, meditation, consuming sedative that has been prescribed, go to the therapist who has metode that

14. ..may comfort them or go to see their counselor for some session depend on their needs.

15. Don’t consider that what I wrote above as a ’self spoiling’, NO, actually it’s the way we confront the trauma effects. We won’t deny it.

16. It’s okay to feel not okay. It’s the way we win the struggle, showing that we won’t deny what happened, an important step.

17. Again, trauma healing is a life time process. I suggest, people around survivors to take empowerment counseling to understand this.

18. Because when the survivors are fighting & people around don’t support them, it will be harder.

19. Supporting survivors healing process needs knowledges, needs to know what exactly they have to face day by day, what they dealing with.

20 When trauma effects hit survivors again, people around, especially their loved ones is their best therapist, because love never fails.

21. Dear SURVIVORS, I believe we won’t stop fighting. Take our life back. Our fight won’t ever fail until we leave it. Much LOVES!!!

I do hope, what I just shared will be useful. Blessings!!!


Terjemahan tweet dalam Bahasa Indonesia:

Kepada para penyitas, beberapa hari yang lalu saya mendapatkan gejala trauma yang sangat buruk. Dan ini telah berakhir sekarang, Tapi saya merasa saya harus membagi beberapa kicauan ini kepada anda semua.

Maaf , apabila saya menuliskannya dalam Bahasa Inggris. Beberapa dari follower saya di sini adalah mungkin para penyitas pemberani dari seluruh dunia. Dan saya akan menterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia dan kemudian menaruhnya di blog saya.

Saya berharap, setelah ini ada diantara anda yang dapat menterjemahkan kicauan Bahasa Inggris saya, ini akan sangat membantu.

Beberapa dari anda tahu bahwa saya adalah penyitas dari kekerasan domestik dan juga kekerasan seksual di masa kecil yang telah berbicara mengenai hal ini sejak beberapa tahun yang lalu, setelah menjalani beberapa terapi.

Saya bekerja keras untuk secara khusus mempelajari, mengumpulkan banyak info dan juga data-data, dan melakukan beberapa penelitian sederhana seorang diri tentang kekerasan berbasis gender selama beberapa tahun.

Proses pemulihan trauma dari kekerasan seksual dan kekerasan domestik, adalah proses pemulihan seumur hidup. Mari garis bawahi ini.

Trauma, para penyitas secara tidak sadar terus merekam hal ini di dalam pikirannya. Dan ketika menghadapi situasi yang memiliki situasi hampir serupa dengan apa yang telah terjadi, tidak perduli sudah berapa lama ini terjadi. Memori para penyitas akan secara otomatis ‘memutar’ kembali atas apa yang telah terjadi / terekam.

Ini akan menempatkan para penyitas dalam kondisi hysteria/ketakutan yang sangat mendalam, serta mengalami depresi yang amat sangat. Dan memori otak akan bereaksi ke fisik dan beberapa anggota tubuh dari para penyitas.

Mereka akan mengalami gangguan lambung, sakit kepala, diare, sakit di bagian dada, gangguan otot, gatal-gatal, sakit perut, kerontokan rambut, keputihan, dan efek-efek secara fisik yang lain.

Ketika ini terjadi, para penyitas akan menarik diri dari berbagai aktifitas sementara waktu untuk ‘membuat jarak’ dari pemicu trauma tersebut supaya menghindari efek fisik tersebut menjadi semakin buruk.

Tidak apa-apa untuk merasakannya di ‘dalam’ sini, jangan menyangkal perasaan, lawan! Ini BUKAN KESALAHAN KITA karena menjadi korban, tidak apa untuk merasakan itu semua.

Para penyitas bisa melakukan latihan pernafasan, meditasi, mengkonsimsi obat penenang yang telah diresepkan, pergi ke terapis yang memiliki metode yang bisa membuat nyaman kalian, atau pergi ke konselor kalian untuk beberapa sesi pertemuan tergantung kebutuhan kalian.

Jangan beranggapan bahwa yang saya tulis diatas sebagai hal yang ‘memanjakan diri’. BUKAN, ini adalah cara kita untuk melawan trauma tersebut. Kita jangan menghindarinya.

Tidak masalah apabila kita tidak merasa baik-baik saja. Ini adalah cara kita untuk memenangi perjuangan ini, menunjukkan kita tidak memenghidari pada apa yang telah terjadi, ini langkah penting

Sekali lagi, pemulihan trauma adalah proses seumur hidup. Saya menyarankan, orang-orang sekeliling dari para penyitas untuk mengerti hal ini dan mengambil bagian dalam proses konseling ini, untuk menguatkan para penyitas.

Karena ketika para penyitas sedang berjuang, dan orang-orang di sekeliling mereka tidak mendukung mereka, ini akan lebih sulit.

Mendukung proses pemulihan para penyitas membutuhkan pengetahuan atau informasi, mengetahui apa yang sebenarnya mereka hadapi dari hari ke hari, tentang apa yang mereka inginkan/butuhkan.

Ketika trauma tersebut kembali menyerang para penyitas, orang-orang di sekeliling, terutama orang yang mereka kasihi/cintai, adalah terapis/penyembuh terbaik mereka, karena Cinta tidak akan pernah gagal

Kepada para penyitas, saya percaya kita tidak akan berhenti berjuang. Ambil kembali kehidupan kita. Perjuangan kita tidak akan pernah gagal sampai kita berhasil! Much LOVES!!!

Saya berharap, apa yang baru saja saya bagikan dapan berguna. Blessings!!!

Dan saya, dan juga blog ini turut mendukung apa yang dilakukan oleh Mbak Helga Worotitjan.

STOP KEKERASAN SEKSUAL DAN KEKERASAN DOMESTIK TERHADAP PEREMPUAN!!!

Blessings!


TAGS Kekerasan Seksual Kekerasan Domestik Pada Perempuan Perkosaan Helga Worotitjan Pelecehan seksual Trauma Healing for Sexual Abuse Survivor Sexual Abuse Domestic Abuse Rape


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post